Mendirikan Bangunan yang Ramah Lingkungan

Mendirikan bangunan ramah lingkungan antara lain menerapkan 3 R ( Reuse, Reduce, Recycle). Operasional bangunan yang mendukung penghematan energi, di antaranya penerapan teknologi daur ulang (recycled), penggunaan kembali (reused), dan reinvestasi terhadap bahan baku yang sudah tidak bisa didaur ulang.

Pada skala bisnis, properti ramah lingkungan di antaranya tecermin dalam desain bangunan, kemampuan mengurangi eksploitasi sumber daya alam, emisi gas karbon, penghematan air dan listrik, serta penggunaan energi terbarukan. Dalam tataran ideal, penerapan konsep properti ramah lingkungan dimulai dengan pemilihan material bangunan. Pemakaian bahan bangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi hingga kini masih terus dipelajari dengan mengeksplorasi kearifan lokal.

Di Indonesia, trend go green atau bangunan yang bersandar pada 3 R belum marak menghinggapi ranah industri property.

Bahkan, belum ada ketentuan tentang kriteria bangunan ramah lingkungan serta rambu-rambu tata ruang daerah yang menopang pengembangan permukiman dan perkantoran ramah lingkungan. Minimnya paradigma ecoproperty membuat pengembangan properti ramah lingkungan di Indonesia masih sebatas klaim pengembang. Jikapun sudah mulai, konsep itu cenderung diterjemahkan secara parsial ke fisik bangunan, yakni besaran ruang terbuka hijau, tinggi bangunan, dan garis sempadan.Saat ini semakin banyak pembangunan properti dengan konsep hijau dan mendapat respons positif dari masyarakat. Namun, paradigma konsep hijau masih berbeda-beda karena belum ada aturan yang jelas mengenai kriteria properti ramah lingkungan.

Kendati berbagai dukungan infrastruktur dan material ramah lingkungan yang terbatas atau mahal, jajaran KencanaOnline.Com berketetapan hati untuk mendirikan bangunan yang memenuhi prinsip-prinsip 3 R. Sebagian material diupayakan menggunakan kembali ( bekas dan layak pakai) yang didaur ulang, diperbanyak menggunakan material alam secara alami tanpa perobahan bentuk oleh pekerja konstruksi, membuat desain talang air guna dipanen ( rain harvesting), air hujan di daur ulang menjadi kolam ikan dengan limpasan direspkan ke sumur resapan, mendirikan fasilitas pengolahan sampah menjadi biogas sebagai sumber energi, serta desain ruang dengan bukaan angin dan cahaya maksimal guna mengurangi pemakaian listrik.

©[KO-FHI]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s