Monthly Archives: Agustus 2012

Mengapa Kita Harus Menghemat Kertas?

Setiap Proses produksi kertas memerlukan bahan kimia, air dan energi dalam jumlah besar dan tentu saja bahan baku, yang pada umumnya berasal dari kayu. Diperlukan 1 batang pohon usia 5 tahun untuk memproduksi 1 rim kertas. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas juga sangat besar, baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas, dan padat maupun secara kualitatif.

Agar limbah ini tidak mencemari lingkungan, maka diperlukan teknologi tinggi dan energi untuk mem- prosesnya.
Perubahan gaya hidup serta penyesuaian akan perkembangan jaman menyebabkan penggunaan kertas terus meningkat, baik kertas untuk kebutuhan tulis/cetak, maupun untuk kebutuhan sanitasi, makanan/minuman dan penunjang gaya hidup lainnya.

Peningkatan kebutuhan kertas tentunya diiringi dengan peningkatan kebutuhan akan bahan baku dan bahan tambahan lainnya. Konsekwnsinya adalah terjadi peningkatan limbah dari proses produksi kertas dan peningkatan jumlah kertas bekas.

Untuk memenuhi kebutuhan kertas nasional yang sekitar 5,6 juta ton/tahun diperlukan bahan baku kayu dalam jumlah besar yang mahal dan tidak dapat tercukupi dari Hutan Tanaman Industri (HTI) Indonesia, ironisnya kita lihat di sekeliling kita betapa banyaknya kertas yang ada di sekitar kita : dokumen, kemasan produk yang berlebihan, koran, majalah, brosur/leaflet/katalog, produk surat- surat, produk-produk sekali pakai, dan lain-lain. Padahal dengan memakai kertas bekas sebagai bahan baku kertas baru, sejumlah pohon, bahan kimia, air dan energi dapat dikurangi penggunaannya.

Jika kita tidak mulai memperbaiki pola konsumsi kertas sejak saat ini, maka akan terjadi kebiasaan dan ketergantungan untuk selalu menggunakan kertas dalam jumlah besar. Hal ini tentunya akan memberikan tekanan secara terus menerus kepada bumi kita dan memberi dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan.

Jika sebuah organisasi terdiri dari 100 orang dapat menghemat 3 lembar kertas setiap hari, maka dalam setahun ada 156 batang pohon yang dapat diselamatkan.

Lalu Apa Yang Dapat Kita Lakukan?
3R : Reduce-Reuse-Recycle!

Mengurangi penggunaan kertas:
•Manfaatkan teknologi surat elektronik (e-mail)/fasilitas
pesan singkat telepon genggam (sms)/telepon untuk undangan/pesan/informasi yang bersifat informal
•Jika memungkinkan gunakan produk yang lebih bertahan lama daripada produk kertas misalnya gunakan sapu tangan/handuk kecil daripada kertas tisu,
•Gunakan popok kain daripada popok sekali pakai,
•Piring porselin/keramik daripada piring kertas/kotak kue untuk menyajikan makanan kecil;
•Jangan ambil/ menerima brosur/leaflet jika tidak diperlukan, atau kembalikan jika sudah dibaca dan isinya sudah dipahami.
•Menggunakan Kembali produk kertas selama mungkin :
•Gunakan kertas tulis/fotokopi pada kedua sisinya;
•Perlakukan kertas bekas/kertas kado bekas/amplop bekas dengan baik sehingga bisa digunakan kembali;
•Gunakan kertas sisa buku tulis untuk membuat tulis baru/

notes;
•Sumbangkan/jual majalah, koran, buku pelajaran dan buku cerita yang masih layak guna;

©[FHI]

Mudik Ramah Lingkungan

Mudik menjadi kebiasaan orang Indonesia, menjelang hari raya Idhul Fitri. Ratusan ribu orang dari Jakarta dan berbagai daerah berbondong-bondong pergi ke kampungnya masing-masing.

Ada yang naik motor ada juga yang berkendara mobil. Namun pernahkan sobat greener berpikir, berapa ratus ribu sampah juga terbuang di jalanan oleh para pemudik?

Berikut kami berikan tips, untuk mudik ramah lingkungan.Yang kami dapat dari berbagai sumber.

1. Naik mobil/angkutan yang ramah lingkungan. Bagaimana cara membedakan mana kendaraan yang ramah lingkungan atau enggak?

Caranya sebenarnya gampang kok. Pilih kendaraan yang emisi buangan gasnya paling kecil.

2. Pastikan terisi penuh semua kapasitas kendaraan. Bus atau mobil. Disamping menghemat BBM serta mengurangi polusi.

3. Rencanakan keberangkatan pada saat matahari mulai redup sehingga tidak perlu menghidupkan AC selama perjalanan (buka jendela).

4. Membawa bekal makanan dan minuman dari rumah, selain hemat, lebih hiegienis serta mengurangi sampah kemasan.

5. Gunakan tupperware agar mutunya tetap terjaga, tidak ada pemborosan karena makanan/minuman yang terbuang.

6. Selama perjalanan kumpulkan kemasan-kemasan sisa makanan dalam Tupperware dan buang setelah menemukan tempat sampah.

7. Bawa lap basah masukkan dalam Tupperware yang ketat cairan agar tetap lembab untuk mengurangi penggunaan tissue.

8. Aneka snack diperlukan selama perjalanan, pindahkan ke dalam Tupperware dari kemasan aslinya sehingga tidak repot membuang sisa kemasannya.

©[FHI]

Sampingan

Sudah banyak orang yang mendiskusikan tentang pentingnya mengurangi pengunaan kantong plastik. Tapi berapa banyak yang sudah betul-betul berhenti memakai kantong kresek saat belanja? Mungkin Sobat greeners bertanya, “Memang kenapa tidak boleh pakai kresek? Kan, kresek itu gratis dan praktis?!” Betul! … Baca lebih lanjut

Beri peringkat:

Sampingan

Setiap kali membaca tulisan ataupun kutipan tentang perjuangan hidup Soe Hok Gie, seorang diantara generasi pasca kemerdekaan yang kini telah meninggal dunia dalam suatu kecelakaan pada saat mendaki gunung Semeru, tanganku senantiasa tergerak, seakan terpaksa – paksaan ini ku nilai … Baca lebih lanjut

Beri peringkat:

Sampingan

Hal utama yang tentu harus dilakukan oleh manusia dalam halnya pengelolaan lingkungan adalah merubah paradigma tentang pengelolaan lingkungan. Pengelolaan lingkungan adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup. … Baca lebih lanjut

Beri peringkat:

Apa Kabar Dengan Es Kutub Utara?

Greenland adalah sebuah pulau yang pada permukaannya terhampar berkilo-kilometer persegi salju atau es. Greenland ini juga merupakan salah satu penyimpan es terbesar di bumi setelah antartika. Menurut riset para ilmuwan, Greenland terkena imbas dari pemanasan global, yaitu mencairnya permukaan es di Greenland. Para ilmuwan memperkirakan jika es di Greenland terus mencair maka permukaan laut akan naik dan dapat membanjiri daerah pesisir pantai.

Jika itu terjadi, maka orang- orang yang biasa tinggal di tepi pantai harus mengungsi untuk mendapat rumah baru.
Bagaimanakah pencairan es di Greenland bisa terjadi?

Pencairan es di Greenland sebenarnya wajar terjadinya, tetapi diimbangi oleh pembentukan di puncak gletser yang merupakan sumber es. tetapi karena pemanasan global, gletser yang mencair jauh lebih banyak dibandingkan dengan gletser yang terbentuk. Itulah yang menyebabkan es atau gletser di Greenland semakin sedikit.

Proses pencairan es di Greenland diawali oleh pecahnya balok-balok es raksasa di Greenland. Greenland dapat terpecah-pecah karena sifat air yang membeku. Sifat tersebut adalah bertambahnya volume air pada saat menjadi es. Pada permukaan gletser di Greenland, terdapat celah-celah yang mencapai dasar gletser. Es yang mencair akan menjadi air dan masuk ke celah- celah gletser ini. Air yang masuk ke celah-celah ini kemudian membeku.

Air yang membeku memiliki volume yang lebih besar daripada saat bentuk cair sehingga air yang membeku ini mendorong es disekitarnya dan membuat gletser di Greenland pecah.

Para ilmuwan merasa kesulitan untuk mencegah hal ini karena untuk menghentikan pencairan ini, maka harus menghentikan pemanasan global. Untuk itu dunia sedang mengusahakan pengurangan emisi gas buang dari perindustrian terutama dari negara-negara maju.

Selain di Greenland, Antartika juga semakin terancam oleh pemanasan global. Proses pencairan es di Antartika berlangsung lebih cepat karena seluruh permukaan antartika merupakan es tidak seperti di Greenland. Hal ini menyebabkan bertambahnya kecepatan pencairan dikarenakan sifat es yang lainnya, yaitu es lebih mudah bergerak di atas permukaan cair dibandingkan di atas permukaan padat.

Di Greenland, gletser berada di atas permukaan padat, tetapi di antartika es langsung berada di atas air. Es yang berada di atas air mengalami gerakan yang lebih cepat dibandingkan es yang berada di atas permukaan padat. Ini menambah faktor yang menyebabkan es pecah. Jika es di antartika pecah, maka balok es raksasa akan terapung di laut dan mengalami pencairan lebih cepat karena volumenya lebih kecil.

©[FHI/NatGeo]

Greenland adalah sebuah pulau yang pada permukaannya terhampar berkilo-kilometer persegi salju atau es. Greenland ini juga merupakan salah satu penyimpan es terbesar di bumi setelah antartika. Menurut riset para ilmuwan, Greenland terkena imbas dari pemanasan global, yaitu mencairnya permukaan es di Greenland. Para ilmuwan memperkirakan jika es di Greenland terus mencair maka permukaan laut akan naik dan dapat membanjiri daerah pesisir pantai.

Jika itu terjadi, maka orang- orang yang biasa tinggal di tepi pantai harus mengungsi untuk mendapat rumah baru.
Bagaimanakah pencairan es di Greenland bisa terjadi?

Pencairan es di Greenland sebenarnya wajar terjadinya, tetapi diimbangi oleh pembentukan di puncak gletser yang merupakan sumber es. tetapi karena pemanasan global, gletser yang mencair jauh lebih banyak dibandingkan dengan gletser yang terbentuk. Itulah yang menyebabkan es atau gletser di Greenland semakin sedikit.

Proses pencairan es di Greenland diawali oleh pecahnya balok-balok es raksasa di Greenland. Greenland dapat terpecah-pecah karena sifat air yang membeku. Sifat tersebut adalah bertambahnya volume air pada saat menjadi es. Pada permukaan gletser di Greenland, terdapat celah-celah yang mencapai dasar gletser. Es yang mencair akan menjadi air dan masuk ke celah- celah gletser ini. Air yang masuk ke celah-celah ini kemudian membeku.

Air yang membeku memiliki volume yang lebih besar daripada saat bentuk cair sehingga air yang membeku ini mendorong es disekitarnya dan membuat gletser di Greenland pecah.

Para ilmuwan merasa kesulitan untuk mencegah hal ini karena untuk menghentikan pencairan ini, maka harus menghentikan pemanasan global. Untuk itu dunia sedang mengusahakan pengurangan emisi gas buang dari perindustrian terutama dari negara-negara maju.

Selain di Greenland, Antartika juga semakin terancam oleh pemanasan global. Proses pencairan es di Antartika berlangsung lebih cepat karena seluruh permukaan antartika merupakan es tidak seperti di Greenland. Hal ini menyebabkan bertambahnya kecepatan pencairan dikarenakan sifat es yang lainnya, yaitu es lebih mudah bergerak di atas permukaan cair dibandingkan di atas permukaan padat.

Di Greenland, gletser berada di atas permukaan padat, tetapi di antartika es langsung berada di atas air. Es yang berada di atas air mengalami gerakan yang lebih cepat dibandingkan es yang berada di atas permukaan padat. Ini menambah faktor yang menyebabkan es pecah. Jika es di antartika pecah, maka balok es raksasa akan terapung di laut dan mengalami pencairan lebih cepat karena volumenya lebih kecil.

©[FHI/NatGeo]