Makanan Organik di Kota

Banyak sekali makanan yang walaupun terlihat segar dan sehat, namun tanpa disadari sudah ‘disusupi’ dengan zat kimia beracun yang lambat laung bisa mengancam kesehatan tubuh sobat greeners.

Untuk itu, salah satu solusinya adalah pilihlah makanan organik, yang tidak hanya baik bagi kesehatan, tapi juga aman bagi lingkungan.

Apa itu produk organik?
Yang disebutkan “produk organik” adalah hasil pertanian yang memenuhi kaidah-kaidah pertanian organik, diantaranya tidak menggunakan pestisida sintetis, pupuk kimia sintetis, zat pengatur tumbuh, rekayasa genetika, dll.

Lalu, bagaimana dengan bahan pangan yang biasa sobat greeners beli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Timbul pertanyaan di benak kita, apakah bahan pangan tersebut sudah tercemar?

Jelas tidak semua, tetapi ada upaya yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan produk pangan yang sehat dan aman. Mengonsumsi produk organik adalah pilihan yang bijak.

Dengan mengonsumsi makanan organik, organ tubuh kita bekerja lebih ringan. Menurut penelitian yang dilakukan pada 2007, buah dan sayuran organik mengandung lebih dari 40% antioksidan dibandingkan buah dan sayuran produk pertanian konvensional.

Ada banyak alasan mengapa memilih produk organik. Diantaranya bila kita berbicara lingkungan, pertanian konvensional (non-organik) berdampak buruk khususnya terhadap ekosistem lahan pertanian. Dan bila dihubungkan dengan kesehatan, ternyata juga berdampak buruk terhadap
kesehatan petani itu sendiri, misalnya dengan adanya paparan pestisida kimia sintetis saat proses produksi atau pun proses penyemprotan.

Di mana sobat greeners bisa mendapatkan produk organik?
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan produk organik, yaitu berbelanja di toko, outlet khusus, belanja online, belanja komunitas,belanja langsung ke produsen atau petani, belanja melalui pasar tani yang hanya ada dihari-hari tertentu.

Periksalah ciri-ciri produk. Ciri-ciri pangan organik seperti sayur dan buah secara kasat mata sekarang tidak terlalu berbeda. Tidak semua sayur/buah organik harus bolong-bolong atau berpenampilan buruk, akan tetapi bisa juga bagus, mulus karena memang pas sedang musimnya dan pengendalian hama terpadunya baik. Kalau dari rasa untuk yang sudah biasa memang terasa perbedaannya, diantaranya teksturnya lebih renyah, padat, dan aroma yang lebih kuat.

Cermati masalah label sertifikasi atau penjaminan . Di Indonesia ada badan khusus yang didirikan untuk sertifikasi produk organik, salah satunya yaitu BioCert.

Kenali sumber atau produsen atau petani yang mensuplai produknya. Bisa dilakukan kunjungan langsung ke lahan pertanian bila memungkinkan sehingga terjalin hubungan saling mempercayai antara produsen – konsumen.

Pilih produk lokal setempat , setidaknya melakukan variasi dan keragaman konsumsi pangan sehari-hari, seperti buah kita bisa beralih ke jenis buah-buahan lokal setempat seperti kecapi, manggis, salak, jambu bol, belimbing untuk menggantikan buah-buahan impor (setidaknya memperkecil jejak karbon). Dari segi nilai gizi, buah-buahan lokal tidak kalah hebat dengan buah impor seperti pear.

Lakukan penanaman sendiri di pekarangan atau halaman bila memungkinkan. Untuk sobat greeners yang tinggal di perkotaan bisa melakukan pertanian kota, seperti menanam bumbu dapur dan buah.

Eits, bukankah produk organik termasuk mahal?
Kalau masalah harga itu relatif, tergantung di mana kita membelinya, selain ada masalah jarak tempuh dari produk sampai ke konsumen, serta masalah kualitas. Apakah bentuk curah atau memang yang premium (seperti ukuran rata, kemasan) tentu harganya berbeda.

Satu alasan lagi untuk harga tinggi dari produk organik karena ketersediaannya yang masih terbatas, petani juga perlu biaya lebih untuk menyehatkan tanah sebelum tanahnya layak menghasilkan produk organik.

Belum lagi masalah tenaga kerja yang lebih banyak karena
menggunakan cara manual.

Ada banyak hal untuk menyiasati keterbatasan dana atau budget rumah tangga untuk membeli produk organik diantaranya kita lakukan prioritas, lakukan bertahap untuk beralih. Belilah produk lokal, belanja secara komunitas atau langsung ke petani.

©[FHI/Berbagai sumber]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s