Monthly Archives: Januari 2013

Penjualan Hewan Langka di Ponorogo

lutung

Penjualan hewan langka ternyata masih marak saja di Indonesia, tidak ketinggalan juga termasuk di kota reog Ponorogo. Seperti yang didapati leh salah seorang volunteer Forum Hijau Ponorgo di Pasar burung terminal lama yang berlokasi di jalan Pacar, Ponorogo.

Setelah kami identifikasi lewat hasil photo yang diambil oleh salah satu volunteer FHP, kemungkinan besar hewan tersebut adalah sepsies Lutung jawa. Lutung jawa atau lutung budeng terdiri atas dua subspesies yaitu Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius. Subspesies Trachypithecus auratus auratus (Spangled Langur Ebony) bisa didapati di Jawa Timur, Bali, Lombok, Palau Sempu dan Nusa Barung. Sedangkan subspesies yang kedua, Trachypithecus auratus mauritius (Jawa Barat Ebony Langur) dijumpai terbatas di Jawa Barat dan Banten.
Dalam pengambilan photo sempat mendapat intimidasi dari si penjual yang tampaknya bukan warga setempat karena tidak bisa berbahasa Indonesia.

Bukankah setiap mahluk dimuka bumi ini berhak untuk hidup di-habitat masing masing? Bagitu menyedihkan jika nantinya monyet langka ini hanya bisa dilihat di kebun binatang atau terkurung sebagai binatang piaraan atau bahkan punah sama sekali.

©[Forum Hijau Ponorogo]
©Pic: FHP

Iklan
Sampingan

Di seluruh dunia, hutan-hutan alami sedang dalam krisis. Tumbuhan dan binatang yang hidup didalamnya terancam punah. Dan banyak manusia dan kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga sedang terancam. Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk. Masih ada harapan untuk menyelamatkan … Baca lebih lanjut

Beri peringkat:

Sampingan

Ada teman-teman yang pesimis bahwa tidak mungkin banjir Ciliwung bisa diatasi. Kami justru optimis banjir Ciliwung bisa dikendalikan. Ini argumentasinya: 1. Banjir di Ciliwung bisa dikendalikan jika setiap WARGA DAS CILIWUNG dilibatkan. Siapa saja mereka? Warga DAS Ciliwung adalah warga … Baca lebih lanjut

Beri peringkat:

LAWAN RENCANA PEMBANGUNAN 6 JALAN TOL JAKARTA DENGAN HP-MU

Sobat,
Hampir setiap masyarakat Jakarta bergelut dengan kemacetan lalu lintas. Hampir setiap hari pula mereka dipaksa menghirup udara beracun dari asap knalpot mobil-mobil yang lalu lalang di Jakarta.

Kita ingin sebuah perubahan. Kita ingin pemerintah DKI Jakarta lebih berpihak pada transportasi massal dan bukan pergerakan mobil-mobil pribadi yang knalpotnya membuat udara di Jakarta tercermar.

Harapan itu harus diperjuangkan sobat. Kita tidak lagi bisa menggantungkan harapan itu kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).

Apalagi, Jokowi sudah jelas-jelas tanpa merasa bersalah merestui proyek pembangunan 6 jalan tol dalam kota Jakarta yang akan memfasilitasi pergerakan mobil-mobil pribadi. Dengan adanya 6 jalan tol itu, Jakarta akan semakin macet.

Dan sudah pasti kita akan kembali dipaksa menghirup udara beracun dari knalpot mobil milik orang-orang kaya itu.
Tidak! Kita tidak boleh diam!

Kita harus melawan rencana pembangunan 6 jalan tol dalam kota Jakarta!

Caranya?

Mudah saja..ambil handphone kamu kemudian tulis :

“BPLHD Jkt: Tolak Amdal 6 Jalan Tol”

Lalu kirim ke KPL BPLHD DKI Jakarta di 08161396009

©[FHI]

Salju Turun Di Gurun Arab

Tabuk, wilayah padang pasir dan pegunungan di barat laut Arab Saudi, mengalami fenomena alam yang tidak biasa. ”Tabuk diguyur salju tahunan sejak Selasa kemarin,” tulis Arabnews.

Warga setempat langsung memanfaatkan momen langka itu dengan berwisata ke pegunungan indah dan lokasi lainnya yang diselimuti salju. Warga dari luar Tabuk juga tak mau kalah ingin menikmati momen salju yang sangat jarang terjadi tersebut.”Jalan-jalan, terutama menuju lokasi Gunung Allouz, dipenuhi oleh mobil-mobil,” tulis Arabnews dalam tulisan beritanya ‘It’s snowing.. in Saudi Arabia!.

Sementara, petugas keamanan serta petugas lalu lintas dan kesehatan bersiaga di sejumlah titik untuk mengatur arus ‘turis dadakan’ dan siap memberikan pelayanan. Direktur Lalu lintas Tabuk, Brigadir Muhammad bin Ali Al-Najjar, mengingatkan wisatawan berhati-hari dalam berkendaraan.
”Para pengemudi diharapkan mematuhi batas kecepatan dan berkomunikasi dengan pihak berwenang untuk bantuan atau informasi,” kata Muhammad.

”Petugas patroli siap mengatur lalu lintas dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkannya.”

Sementara jubir Pertahanan Sipil di Tabuk, Brigadir Mamdouh Al-Enizi, menyarankan penduduk setempat menghindari lembah. Mereka juga diminta untuk tidak mendaki ke tempat-tempat tinggi yang diselimuti salju.
Jalan menuju gurun dan daerah pegunungan Tabuk penuh sesak dengan mobil yang berasal dari kota-kota sekitar seperti Haql dan Bada. Salju mengancam warga Timur Tengah.

©[FHI/Rol]

Burung Sawah Terancam Punah

Tulisan ini kami posting setelah membaca permintaan sobat greeners kepada FHI agar melakukan pembahasan tentang burung sawah.

Ancaman dan hilangnya atau putusnya ekosistem burung-burung di Indonesia membuat kami prihatin atas hal ini, sampai kapan eksploitasi burung-burung di Indonesia ini berhenti atau setidaknya berkurang dari perburuan besar-besaran.

Salah satunya yang kami khawatirkan adalah burung-burung sawah seperti, ciblek, prenjak, cici, atau sejenis burung-burung sawah lainnya.

Yang kami ungkap disini adalah burung Ciblek atau Prenjak dan burung sawah lainnya, burung ini dahulu masih sering dan banyak di dengar suaranya di alamnya, seperti di pepohonan rumah atau di sawah, namun belakangan ini sudah makin jarang di dengar di alamnya.

Sebelum tahun 1990-an, burung – burung sawah sejenis ciblek ini boleh dibilang tidak memiliki nilai ekonomi, sehingga banyak dibiarkan bebas dan meliar seperti halnya burung gereja dan burung pipit dan karena sifatnya yang mudah beradaptasi dan tidak takut pada manusia menyebabkan populasi burung ini cukup tinggi pada wilayah-wilayah yang sesuai.

Setelah tahun-tahun belakangan ini, burung ini mulai banyak diburu orang untuk diperdagangkan terutama di Jawa, apalagi burung ini mudah dijumpai di wilayah perkebunan dan memiliki keistimewaan mudah jinak, sifat jinaknya membuat ia mudah ditangkap dengan cara dipikat yaitu memakai bantuan cermin di dalam sangkar. Burung yang tertarik dengan bayangannya sendiri akan terjebak di dalam sangkar.

Cara lainnya dalam perburuan burung ini yaitu dengan memasang jerat atau rajut di sekitar sarangnya, atau dengan perangkap getah (pulut) pada tempat-tempat tidurnya di waktu malam, para penangkap burung yang terampil, bahkan, kerap hanya bermodalkan senter, kehati-hatian dan kecepatan tangan menangkap burung yang tidur di malam hari.

Bayangkan saja berapa jumlah yang di tangkap oleh para pencari burung burung ini dalam semalam atau perharinya, itu perburuan dari satu wilayah saja atau daerah-daerah tertentu, belum lagi dari daerah yang lainnya se jawa atau se Indonesia, bisa di bayangkan setiap hari burung-burung ini di tangkap untuk dijual.

Semua itu terjadi karena banyaknya faktor dalam kehidupan ekonomi kita yang meyebabkan terjadi semacam eksploitasi burung-burung di hutan, belum lagi timbulnya tekanan terhadap habitat alami juga erat kaitannya dengan kemiskinan, pemanfaatan sumber daya dan lahan hutan, serta pengembangan pertanian, Faktor-faktor ini yang mendorong terjadinya kerusakan habitat, meningkatnya polusi, dan pemanfaatatan sumber daya alam secara berlebihan.

Kembali ke burung sawah yang banyak di buru secara besar-besaran, Sayang sekali burung ini mudah stres dan mati dalam pemeliharaan, terutama apabila yang ditangkap adalah burung dewasa, belum lagi jika pemeliharanya tidak berpengalaman, namun ini agaknya tidak menyurutkan minat para penangkap burung untuk terus memburunya, sampai sekarang, burung ini masih sulit untuk dibiakkan.

Eksploitasi yang berlebihan sangat berbahaya bagi populasi ciblek, di wilayah-wilayah tertentu, kini seolah ‘kehabisan stok’ padahal sebelum tahun 90-an burung ini masih melimpah. Perenjak jawa semakin jarang terlihat di taman-taman, dan hadir terbatas di tempat-tempat tertentu yang masih dekat hutan.

Bagaimana nasib burung-burung sawah itu 10 hingga 15 tahun ke depan, apakah masih ada populasinya dan ekosistemnya di alamnya?

©[FHI]

Tanah Kurang Yodium, Muncul Kampung Idiot di Ponorogo

Kabupaten Ponorogo yang terletak 200 kilometer dari ibu kota Provinsi
Jawa Timur, Surabaya, memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Mulai dari kekayaan budaya, wisata dan industri.

Ponorogo yang memiliki 855.281 penduduk ini, juga dikenal sebagai kota reog. Karena itu, tak heran bila dalam setiap tahunnya, festival reog rutin digelar di kabupaten ini.

Meski memiliki kekayaan budaya dan wisata, Ponorogo juga memiliki catatan negatif yang tidak bisa dianggap remeh. Bahkan di beberapa wilayah, ada perkampungan yang warganya terindikasi idiot (down syndrome)dan gila.

Sebut saja, di Desa Sidoharjo dan Desa Krebet, Kecamatan Badegan. Total ada 400 penduduk yang mengalami idiot atau keterbelakangan mental. Dari jumlah itu, 300 orang tinggal di Desa Sidoharjo dan 100 orang di Desa Krebet.

Begitu juga di Desa Pandak, Kecamatan Balong. Di tempat ini, ada sekitar 50 orang yang mengalami idiot. Desa Karangpatihan, 69 orang idiot. Yang lebih ironis ada di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan. Di tempat ini, terdapat 68 orang gila.

Lantas apa yang menyebabkan munculnya ‘kampung idiot’ dan ‘kampung gila’?

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo Andy Nurdiana Diah saat ditemui Forum Hijau Ponorogo mengungkapkan penyebabnya adalah kurangnya yodium yang dikonsumsi oleh warga di ‘kampung idiot’. Andy mengatakan, kondisi geografis Ponorogo yang dikelilingi pegunungan kapur menyebabkan tanah tidak bisa menyimpan nutrisi dengan baik.

Andy mengaku telah melakukan berbagai penelitian, dan hasilnya kandungan yodium di desa yang banyak dihuni warga idiot memang sangat minim. Bahkan, bisa dikatakan nol persen alias tidak ada kandungan yodium sama sekali.

Dari sampel tanah dan air di wilayah tersebut, yang ada justru logam berat.

Andy mengaku angka penderita down syndrome telah mengalami banyak penurunan. Indikatornya, adalah tidak ada lagi penderita idiot baru yang muncul.

Dari pantauan FHP mendapati, tidak suburnya lahan dan kurangnya asupan yodium menjadi penyebab adanya warga idiot di desa-desa tersebut.

Untuk itulah,saat ini telah dibuat peraturan desa yang mewajibkan seluruh toko untuk menjual garam beryodium. Peraturan desa tersebut diusulkan bisa menjadi peraturan daerah atau Perda.

Warga idiot didominasi oleh kaum pria dan relatif memiliki umur hidup yang lebih pendek. Jika rata-rata di Indonesia, harapan hidup mencapai 60 tahun. Di Desa Karangpatihan, warga idiot hanya memiliki harapan hidup sampai 30 – 40 tahun saja.

Kecilnya harapan hidup ini, akibat minimnya asupan gizi yang diterima. Dalam sehari-hari, sebagian besar warga idiot, mengonsumsi nasi tiwul yang terkadang sudah dikeringkan, atau gaplek.

Kebutuhan sehari-hari pun, terkadang warga idiot memerlukan bantuan dari pihak lain, seperti pemerintah dan masyarakat. Dalam setiap bulan, selalu saja ada masyarakat atau instansi yang memberikan sumbangan dan bantuan bagi warga kampung idiot.

Optimalkan Konsep Agraris
FHP melihat apa yang dilakukan pemerintah di kampung idiot masih terlalu parsial. Karena hanya memberikan bantuan berupa sembako dan uang.

Seharusnya pemerintah daerah, provinsi dan pusat saling bersinergi untuk mengutamakan konsep agraris di kampung idiot. Bagi Agung, tidak ada yang mustahil dalam konsep agraris.

Pemerintah harus berpikir bagaimana caranya merubah lahan tidak subur menjadi subur. Intinya harus ada niat dan kemauan.

Khusus di ‘kampung idiot’, penggarapan lahan bisa diserahkan kepada masyarakat normal. Soal sistemnya, bisa diatur oleh kepala desa masing-masing.

Untuk itulah Forum Hijau Ponorogo mulai merencanakan untuk kegiatan revitalisasi lahan di lingkungan kampung-kampung tersebut, salah satunya dengan menyiapkan bibit-bibit pohon produktif yang sesuai dengan kondisi lahan ditempat tersebut.

©[BCR-Forum Hijau Ponorogo-FHI]

Follow us: @forum_hijau