Tag Archives: GREENEWS

Tanah Kurang Yodium, Muncul Kampung Idiot di Ponorogo

Kabupaten Ponorogo yang terletak 200 kilometer dari ibu kota Provinsi
Jawa Timur, Surabaya, memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Mulai dari kekayaan budaya, wisata dan industri.

Ponorogo yang memiliki 855.281 penduduk ini, juga dikenal sebagai kota reog. Karena itu, tak heran bila dalam setiap tahunnya, festival reog rutin digelar di kabupaten ini.

Meski memiliki kekayaan budaya dan wisata, Ponorogo juga memiliki catatan negatif yang tidak bisa dianggap remeh. Bahkan di beberapa wilayah, ada perkampungan yang warganya terindikasi idiot (down syndrome)dan gila.

Sebut saja, di Desa Sidoharjo dan Desa Krebet, Kecamatan Badegan. Total ada 400 penduduk yang mengalami idiot atau keterbelakangan mental. Dari jumlah itu, 300 orang tinggal di Desa Sidoharjo dan 100 orang di Desa Krebet.

Begitu juga di Desa Pandak, Kecamatan Balong. Di tempat ini, ada sekitar 50 orang yang mengalami idiot. Desa Karangpatihan, 69 orang idiot. Yang lebih ironis ada di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan. Di tempat ini, terdapat 68 orang gila.

Lantas apa yang menyebabkan munculnya ‘kampung idiot’ dan ‘kampung gila’?

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo Andy Nurdiana Diah saat ditemui Forum Hijau Ponorogo mengungkapkan penyebabnya adalah kurangnya yodium yang dikonsumsi oleh warga di ‘kampung idiot’. Andy mengatakan, kondisi geografis Ponorogo yang dikelilingi pegunungan kapur menyebabkan tanah tidak bisa menyimpan nutrisi dengan baik.

Andy mengaku telah melakukan berbagai penelitian, dan hasilnya kandungan yodium di desa yang banyak dihuni warga idiot memang sangat minim. Bahkan, bisa dikatakan nol persen alias tidak ada kandungan yodium sama sekali.

Dari sampel tanah dan air di wilayah tersebut, yang ada justru logam berat.

Andy mengaku angka penderita down syndrome telah mengalami banyak penurunan. Indikatornya, adalah tidak ada lagi penderita idiot baru yang muncul.

Dari pantauan FHP mendapati, tidak suburnya lahan dan kurangnya asupan yodium menjadi penyebab adanya warga idiot di desa-desa tersebut.

Untuk itulah,saat ini telah dibuat peraturan desa yang mewajibkan seluruh toko untuk menjual garam beryodium. Peraturan desa tersebut diusulkan bisa menjadi peraturan daerah atau Perda.

Warga idiot didominasi oleh kaum pria dan relatif memiliki umur hidup yang lebih pendek. Jika rata-rata di Indonesia, harapan hidup mencapai 60 tahun. Di Desa Karangpatihan, warga idiot hanya memiliki harapan hidup sampai 30 – 40 tahun saja.

Kecilnya harapan hidup ini, akibat minimnya asupan gizi yang diterima. Dalam sehari-hari, sebagian besar warga idiot, mengonsumsi nasi tiwul yang terkadang sudah dikeringkan, atau gaplek.

Kebutuhan sehari-hari pun, terkadang warga idiot memerlukan bantuan dari pihak lain, seperti pemerintah dan masyarakat. Dalam setiap bulan, selalu saja ada masyarakat atau instansi yang memberikan sumbangan dan bantuan bagi warga kampung idiot.

Optimalkan Konsep Agraris
FHP melihat apa yang dilakukan pemerintah di kampung idiot masih terlalu parsial. Karena hanya memberikan bantuan berupa sembako dan uang.

Seharusnya pemerintah daerah, provinsi dan pusat saling bersinergi untuk mengutamakan konsep agraris di kampung idiot. Bagi Agung, tidak ada yang mustahil dalam konsep agraris.

Pemerintah harus berpikir bagaimana caranya merubah lahan tidak subur menjadi subur. Intinya harus ada niat dan kemauan.

Khusus di ‘kampung idiot’, penggarapan lahan bisa diserahkan kepada masyarakat normal. Soal sistemnya, bisa diatur oleh kepala desa masing-masing.

Untuk itulah Forum Hijau Ponorogo mulai merencanakan untuk kegiatan revitalisasi lahan di lingkungan kampung-kampung tersebut, salah satunya dengan menyiapkan bibit-bibit pohon produktif yang sesuai dengan kondisi lahan ditempat tersebut.

©[BCR-Forum Hijau Ponorogo-FHI]

Follow us: @forum_hijau

Iklan

Pulau Bidadari di Folres Sudah Dibeli Warga Inggris

Pulau Bidadari, sebuah gugusan kepulauan di ujung barat Pulau Flores, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah dibeli dan dikuasi oleh Lewan Dosky bersama isterinya asal Inggris sejak tiga tahun lalu.

Pulau tersebut dibeli Lewan Dosky dari Haji Mahmud, seorang penduduk Labuanbajo, Kabupaten Manggarai Barat, seharga sekitar Rp495 juta, kata Komandan Korem 161/Wirasakti, Kol Inf APJ Noch Bola kepada para wartawan usai perayaan ulang tahun Korem 161/Wirasakti ke-45 di Kupang, Jumat.

Menurut Danrem, setelah dibeli dan dikuasai oleh warga negara asing itu, penduduk Labuanbajo bersama para nelayan setempat dilarang masuk atau menyinggahi pulau tersebut setelah dikelolanya menjadi objek wisata untuk kepentingan turis asing.

“Tahun lalu, lebih dari 2.000 orang turis asal Inggris dan negara Eropa lainnya mengunjungi Pulau Bidadari untuk menikmati keindahan alam di sekitarnya,” kata Danrem Bola dan menambahkan, aparat keamanan sempat dilarang masuk ke pulau itu oleh Lewan Dosky bersama isterinya.

“Tetapi, kami tetap bersikeras untuk masuk ke pulau itu untuk menancapkan Bendera Merah Putih, karena pulau itu adalah bagian dari kepulauan Nusantara dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari NKRI,” tegasnya.

Ia menambahkan, aparat keamanan dari Bintara Pembina Desa (Babinsa) Manggarai Barat ditempatkan di pulau itu untuk mengawasi setiap aktivitas warga negara asing yang masuk ke Pulau Bidadari.

Danrem mengatakan, Lewan Dosky bersama isterinya, sampai sekarang masih tetap berstatus sebagai warga negara Inggris, namun aktivitasnya dalam mengembangkan usaha pariwisata di Pulau Bidadari masih berjalan seperti biasa, karena mengantongi izin usaha dari pemerintah daerah.

“Kita tidak melarang investor asing masuk ke Indonesia untuk menanamkan modalnya, tetapi model pengelolaan pulau-pulau terluar seperti itu patut juga diwaspadai oleh pemerintah, apalagi pulau- pulau itu sudah dibeli oleh warga negara asing,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai sertifikat hak kepemilikan tanah di Pulau Bidadari, Danrem Bola mengatakan belum mengetahuinya, karena belum mendapat laporan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Manggarai Barat mengenai hal tersebut.

Sejumlah pulau terluar di NTT seperti Menggudu di selatan Pulau Sumba bagian timur, Pulau Ndana di Kabupaten Rote Ndao dan Pulau Batek Kabupaten Kupang, sempat dihuni oleh warga negara asing untuk kegiatan pariwisata, namun langkah itu berhasil dibendung setelah TNI menempatkan para prajuritnya di pulau-pulau tersebut.

©[FHI/Antara]